Minggu, 06 Mei 2012

Budidaya Pepaya

MAKALAH BERTANAM PEPAYA

I.    PENDAHULUAN
A.    Manfaat Tanaman Pepaya

Tanaman pepaya merupakan tanaman buah yang banyak manfaatnya bagi kehidupan manusia. Tanaman pepaya dari mulai akar, batang, daun, buah dan getahnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup manusia.
Akar, daun dan bunga dapat digunakan untuk obat. Daun yang muda dapat disayur, daun yang sudah tua dapat dibuah makanan ternak. Batang dapat digunakan untuk makanan ternak terutama pada musim kemarau.
Buah pepaya yang masih muda dapat dibuat sayur, sedangkan buah yang masak dapat dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai buah meja, juga dapat dikonsumsi  dalam bentuk olahan, misalnya dibuat manisan dan sebagainya.
Getah pepaya juga dapat dimanfaatkan, antara lain untuk melinakkan daging.

B.    Lingkungan Yang Cocok
Jika akan menanam pepaya, sebaiknya diketahui syarat-syarat tumbuhnya. Tanaman pepaya dapat tumbuh baik pada dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan). Tanaman pepaya sangat baik bila ditanam [ada tanah yang subur, gembur dan mudah merembeskan air.
Apabila tanaman pelaya ditanam pada tempat yag becek, dain-daun pepaya akan menguning, kemudian rontok. Akhirnya tanaman akan mati.
Jenis pepaya yang sering ditanam, antara lain pepaya semangka, pepaya cibinong, pepaya bangkok dan pepaya solo.

II.    PEMBIBITAN
A.    Pembuatan Benih

Perbanyakan tanaman pepaya dilakukan secara generatif atau dengan biji. Biji pepaya yang telah terpilih dan siap disemai disebut benih. Benih pepaya yang baik dapa diperole dari buah pepaya yang berbentuk bulat panjang, sudah masak, dan dipetik dari pohon induk yang berumur dua tahun atau lebih.
Buah pepaya yang masak ditandai dengan warna kuning merata pada kulit buah. Untuk memperoleh benih, buah pepaya dipotong pada pangkalnya ¼ bagian, lalu diambil biji yang berada di tengah buah. Biji dicuci bersih, kemudian dijemur hingga kering.

B.    Penyemaian Pepapa
Menyemai pepaya sangat mudah dilakukan dan sederhana. Langkah pertama adalah siapkan media semai yang terdiri atas campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang. Perbandingannya ialah tanah satu bagian, pasir satu bagian dan pupuk kandang satu bagian, lalu dicampur sampai merata. Kemudian campuran itu dimasukkan ke dalam polibag (wadah media semai).
Untuk mempercepat tumbuhnya benih, benih direndam di dalam air hangat-hangat kuku selama ± 30 menit.
Utuk mendapkan pertumbuhan yang baik,  bibit dalam persemaian perlu dirawat dengan baik pula. Yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam perawatan adalah penyiraman bibit tanaman pepaya tidak tahan terhadap air berlebihan. Oleh karena itu tanahnya jangan sampai terlalu becek, cukup asal media semai yang ada dalam polibag tersebut basah merata. Jika terlalu becek, akar akan membusuk dan akhirnya bibir akan mati.
Setelah tingginya ± 10 cm dan telah memiliki 6-8 helai daun, bibit pepaya tersebut sudah siap tianam di kebun. Ciri-ciri pepaya yang siap untuk ditanam, antara lain sebagai berikut :
1.    Pohonya tumbuh kekar dengan tinggi ± 10 cm
2.    Daunnya telah mencapai 6-8 helai dan berwarna hijau)
3.    Bibit tidak terserang penyakit


III.    PERSIAPAN TANAM
A.    Pembersihan Lahan dan Pengajiran

Langkah awal dalam penanaman pepaya adalah pembersihan lahan dengan menghilangkan semak-semak atau rumput penganggu.
Kemudian, pasanglah air yang disesuaikan dengan ukuran jarak tanam yang diinginkan. Pemasangan ajir dengan cara membuat garis lurus ke arah utara dan selatan. Kemudian, pada ujung garis tersebut ditarik garis lurus membujur ke timur dan ke barat sehingga membentuk siku-siku. Ukur jarak  setiap garis potong tersebut dan tandailah dengan patok. Dari setiap patok ditarik garis sejajar sehingga terbentuk beberapa garis lurus yang berpotongan dan membentuk titik temu, itulah jarak tanam. Dengan cara itu, jarak tanam pepaya akan sama dan lurus.

B.    Pembuatan Lubang Tanam
Satu sampai dua minggu sebelum menanam, sebaiknya sudah dibuat lubang tanam agar lubang tersebut mendapat banyak sinar matahari. Dengan begitu bibit-bibit panyakit yang ada dalam lubang tersebut akan hilang. Jarak tanam pepaya antara 2,5 m x 2,5 m dan 3 m x 3 m. Oleh karena itu, pembuatan lubang tanam harus juga disesuaikan dengan jarak tanam yang diinginkan.
Lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. Dalam pembuatan lubang tanam, tanah galian bagian atas dan bagian bawah dipisahkan. Lubang tanah ditutup, setelah diberi pupuk dasar. Untuk menutup lubang tanah, tanah galian bagian bawah dikembalikan ke bawah dan tanah galian bagian atas kembali diatas.

C.    Pemberian Pupuk
Agar tanaman tumbuh denga nbaik dan subur, sebelum ditanam, berilah lubang tanaman pupuk dasar sebagai persediaan makanan untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk dasar yangdigunakan adalah pupuk kandang, Pupuk TSP, KCL dan urea.
Pupuk kandang diberikan sebanyak ± 2 blik, TSP 50 gram, KCl 45 gram, dan urea 20 gram setiap lubang tanam. Kemudian, aduklah sampai rata.

D.    Penanaman
Waktu yang baik untuk menanam pepaya adalah menjelang musim hujan agar saat pertumbuhan awal berada pada musim hujan. Dengan demikian, tanaman akan berbuah pada musim hujan sehingga buahnya menjadi besar-besar.
Bibit yang sudah siap tanam dikeluarkan dari polibag (wadah), kemudian ditanam tepat di tengah lubang tanam. Penanaman yang baik hanya sedalam pangkal batang.


IV.    PEMELIHARAAN TANAMAN
A.    Penyiangan

Segera lakukan penyiangan apabila tanaman pepaya sudah ditumbuhi rumput pengganggu. Apabila tidak disiangi, selain mengganggu pertumbuhan tanaman, rumput juga merupakan tempat persembunyian dan perkembangbiakan hama tanaman. Penyiangan harus dilakukan secara berhati-hati, cukup menghilangkan rumputnya saja, sebaiknya penyiangan dilakukan sesering mungkin. Yaknik setiap tumbuh rumput segera disiangi.

B.    Penyulaman
Penyulaman dilakukan segera sesudah ada tanaman yang mati agar tumbuhnya tidak ketinggalan dari tanaman yang lain.

C.    Pembuatan Saluran Air atau Parit
Agar pada musim hujan tanah disekeliling tanaman pepaya tidak becek dan pada musim kemarau mudah disiram. Kebun pepaya perlu dibuatkan saluran air yang baik.
Tanaman pepaya hanya memerlukan cukup air (tidak tahan akan air yang berlebihan), kebun pepaya hendaklah selalu diusahakan dalam keadaan basah, tapi jangan sampai becek. Apabila tempat penanaman papaya selalu becek, akar tanaman akan busuk dan akhirnya tanaman akan mati.

D.    Pemupukan
Untuk mempertahankan kesuburan tanaman dan agar buahnya tetap besar-besar, tanaman perlu diberi tambahan pupuk. Pemupukan pertama dilakukan pada waktu tanaman menjelang berbunga. Kemudian, pemupukan diulangi setiap menjelang tanaman berbunga dan sehabis panen (buah sudah dipanen semua). Pupuk yang digunakan adalah urea 200 gram (± 1 gelas), TSP 100 Gram (±1/2 gelas) dan KCl 200 gram (± 1 gelas)

E.    Pengairan
Pada musim kemarau, tanaman pepaya perlu diberi air (disiram). Penyiraman dapat dileb, dapat juga disiram.

F.    Pemilihan Tanaman yang Dapat Menghasilkan
Tanaman pepaya ada yang memiliki bunga jantan (disebut pepaya jantan), yang memiliki bunga betina (disebut pepaya betina), dan yang memiliki bunga sempurna (disebut pepaya sempurna). Yang dapat menghasilkan buah banyak dan besar hanyalah tanaman pepaya yang memiliki bunga sempurna saja. Tanaman yang berbunga jantan tidak dapat berbuah dan tanaman yang berbunga betina walaupun dapat berbuah, buahnya bulat-bulat  dan kecil. Apabila dikebun ada tanaman pepaya jantan atau betina, sebaiknya kedua jenis pepaya itu dibuang saja.


V.    PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
A.    Pengendalian Hama

Ada beberapa hama yang menyerang tanaman pepaya, antara lain sebagai berikut :
1.    Tungau atau Hama Merah
Apabila tanaman pepaya pada musum kemarau daun mudanya menjadi keriting dan bunganya rontok, amatilah di balik daun mungkin terdapat serangga kecil yang berwarna kuning atau kemerah-merahan. Jika ada, itu berarti bahwa tanaman pepaya sedang terserang kutu daun atau tungau. Tungau hidup di balik daun dan bunga. Apabila dibiarkan hasilnya akan menurun, bahkan tanaman pepaya tidak akan berbuah sama sekali.
Cara pemberantasannya ialah dengan menyemprotkan insektida (obat pemberantas serangga


2.    Codot atau Kampret
Codot atau kampret termasuk binatang malam. Mereka mencari mangsanya pada malam hari. Binatang ini selain makan serangga, juga makan buah-buahan, terutama buah yang rasanya manis, termasuk buah pepaya yang sudah masak. Untuk menghindari agar tidak dimakan codot atau kampret, buah pepaya  dipanen pada waktu setengah masak/

3.    Burung
Banyak jenis burung pemakan buah. Oleh karena itu mungkin sekali buah pepaya yang sudah matang akan dimakan burung.

B.    Pengendalian Penyakit
Seperti halnya tanaman lain, tanaman pepaya pun tidak luput dari ancaman penyakit yang merugikan. Penyakit yang menyerang tanaman pepaya antara lain sebagai berikut.
1.    Penyakit Semai Rebah (Damping Off)
Penyakit ini menyerang persemaian pepaya dengan sangat cepat. Tanda-tanda serangganya adalah bibit dalam persemaian menjadi rebah dan bagian pangkal batang busuk. Cara pencegahannya adalah bibit yang terserang penyakit segera dibuang. Bibit yang belum terserang segera disemprot dengan fungisida (obat yang digunakan untuk menyemprot penyakit tanaman)

2.    Penyakit Layu (Pytophthora Parasitica)
Penyakit ini menyerang akar tanaman, terutama pada tanaman di bawah tanah yang becek dan udara lembab. Akar yang terserang penyakit ini akan menjadi busuk, tanaman pun layu, dan akhirnya mati.

3.    Penyakit Layu Bakteri (Bacterium Papayae)
Penyakit ini menyerang akar empelur tanaman, terutama di daerah dataran rendah  yang udaranya panas. Tanaman yang terserang penyakit ini akan menjadi layu dan kahirnya mati. Penyakit ini belum dapat diberantas kecuali dengan pengaturan pengairan yang baik.

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ...........................................................        i
DAFTAR ISI ...................................................................         ii

BERTANAM PEPAYA...........................................................        1
I.     Pendahuluan............................................................       1
       A.    Manfaat Tanaman Pepaya.......................................        1
       B.    Lingkungan Yang Cocok.........................................         1
II.    Pembibitan.............................................................         1
       A.    Pembuatan Benih................................................         1
       B.    Penyemaian Benih..............................................         2
III.    Persiapan Tanam ......................................................         2
       A.    Pembersihan Lahan  dan Pengajiran...........................         2
       B.    Pembuatan Lubang Tanam.......................................         3
       C.    Pemberian Pupuk................................................         3
       D.    Penanaman.......................................................          3
IV.    Pemeliharaan Tanaman...............................................          4
       A.    Penyiangan ......................................................         4
       B.    Penyulaman......................................................         4
       C.    Pembuatan Saluran Air atau Parit.............................         4 
       D.    Pemupukan......................................................         4
       E.    Pengairan........................................................         5
       F.    Pemilihan Tanaman Yang Dapat Menghasilkan................         5
V.    Pengendalian Hama...................................................         5
      A.    Pengendalian Hama..............................................         5
      B.    Pengendalian Penyakit..........................................         6

Dongeng Kerajaan Buleleng

"ASAL MULA KERAJAAN BULELENG"
Dahulu kala pulau Bali. Tepatnya di daerah Klungkung. Hiduplah seorang Raja yang bergelar Sri Sagenting. Ia mempunyai istri yang cukup banyak. Istri yang terakhir bernama Nih Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji dan merupakan keturunan Kyai Pasek Gobleg. Namun malang nasip Ni Luh Pasek, sewaktu ia mengandung, ia dibuang secara halus dari istana, ia dikawinkan dengan kyai jelantik Bagol oleh suaminya.

Kesedihanya agak berkurang berkat kasih sayang kyai jelantik Bagol yang tulus. Setelah tiba waktunya ia melahirkan anak laki-laki. Bayi laki-laki itu diberi nama I Gusti Gede Pasekan. Bayi bernama I Gusti Gede Pasekan makin hari makin besar, setelah dewasa ia mempunyai wibawa besar di Kota Gelgel. Ia sangat dicintai oien pemuka masyarakat dan masyarakat biasa.

Ia juga disayang oleh kyai Jelantik Bogol seperti anak kandungnya sendiri. Pada suatu hari, ketika ia berusaha dua puluh tahun, Kyai Jelantik Bogol memangilnya.. “anakku,” Kyai Jelantik Bogol,“sekarang pergilah engkau ke Den bukit di Daerah Panji.”
“mengapa saya harus pergi kesana , Ayah?”
“anakku, itulah tempat kelahiran ibumu.”
“baiklah, Ayah. Saya akan pergi kesana.”

Sebelum berangkat, Kyai Jelantik Bogol berkata kepada anaknya, “I Gusti, bawalah dua senjata bertuah ini, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Semang dan Sebatang tombak bernama Ki Tunjung Tutur. Mudah-mudahan engkau akan selamat.”
“baik, Ayah!”

Dalam perjalanan ke Den Bukit ini, I Gusti Gede Pasekan diiringi oleh empat puluh orang di bawah pimpinan Ki Dumpiung  dan Ki Kadosol.                        
 
Setelah empat hari berjalan, tibalah mereka di suatu tempat yang disebut Batu Menyan. Di sana mereka bermalam. Malam itu I Gusti Gede Pasekan dan ibuya dijaga ketat oleh para pengiringnya secara bergiliran.
 
Tengah malam, tiba-tiba datang makhluk gaib penghuni hutan. Dengan mudah sekali I Gusti Gede Pasekan diangkat keatas pundak makhluk gaib itu sehingga ia dapat melihat pemandangan lepas dari lautan dan daratan yang terbentanng di depannnya. Ketika ia memandang ke timur dan barat laut, ia melihat pulau yang amat jauh. Sedangkan ketika ia memandang ke arah selatan, pemandangannya dihalangi oleh gunung. Setelah makhluk gaib itu lenyap, didengarnya suatu bisikan.
 
“I Gusti, sesungguhnya daerah yang baru engkau lihat itu akan menjadi daerah kekuasaanmu.”
 
I Gusti Gede Pasekan sangat terkejut mendengar suara gaib itu. Namun ia juga merasa senang, bukankah suara itu adalah petanda bahwa pada suatu ketika ia akan mendapatkan kedudukan yang mulia, menjadi penguasa suatu daerah yang cukup luas.
 
Memang untuk mencapai kemuliaan orang harus menempuh berbagai kesukaran terlebih dahulu.
 
Ia menceritakan apa yang didengarnya secara gaib itu kepada ibunya.
Ibunya memberi semangat untuk terus melakukan perjalanan. Keesokan harinya rombongan I Gusti Gede Pasekan melanjutkan perjalanan yang penuh dengan rintangan. Walupun perjalanan ini sukar dan jauh, akhirnya mereka berhasil juga mencapai tujuan yang selamat.       
 
Pada suatu hari ketika ia berada di desa ibunya, terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Ada sebuah perahu Bugis terdampar di Pantai Panimbangan. Pada mulanya orang bugis meminta pertolongan nelayan di sana, tetapi mereka tidak berhasil membebaskan perahu yang kandas.
 
Nahkoda perahu Bugis sudah putus asa, tapi ketua kampung nelayan datang mendekatinya.
“Hanya seorang yang dapat menolong Tuan.”
“Tuan, katakan saja ! Siapa yang dapat menyeret perahu ke lautan?”
“Seorang anak muda, namun sakti dan penuh wibawa.” Jawab Ketua kampung.
“Siapa namanya?”
“I Gusti Gede Pasekan!”
 
Keesokan harinya orang Bugis itu datang kepada I Gusti Gede Pasekan. Ia berkata, “Kami megharapkan bantuan Tuan. Jika Tuan berhasil mengangkat perahu kami, sebagaian isi muatan perahu akan kami serahkan kapada Tuan sebagai upahnya.”
“Kalau itu memang janji Tuan, saya akan mencoba mengangkat perahu yang kandas itu,” jawab I Gusti Gede Pesekan.  Untuk melepaskan perahu yang kandas itu, I Gusti Gede Pasekan mengeluarkan dua buah senjata pusaka warisan Kyai Jelantik Bogol.
Ia memusatkan pikiranya. Tak lama kemudian munculah dua mahluk halus dari dua buah senjata pusaka itu.
“Tuan apa yang harus hamba kerjakan ?”
“Bantu aku menyeret perahu yang kandas itu ke laut lepas !”
“Baik Tuan !”
 
Dengan bantuan dua mahluk halus itu ia pun berhasil menyeret perahu dengan mudah.
Orang lain jelas tak mampu melihat kehadiran si mahluk halus, mereka hanya melihat I Gusti Gede Pasekan menggerak-gerakan tangannya menunjuk kearah perahu.
Karena senangnya, orang Bugis itu pun menepati janjinya. Diantara hadiah yang diberikan itu terdapat dua buah gong besar. Karena I Gusti sekarang sudah menjadi orang kaya, ia digelari dengan sebutan I Gusti Panji Sakti.
 
Sejak kejadiaan itu, kekuasaan I Gusti Panji Sakti, mulai meluas dan menyebar kemana-mana. Ia pun mulai mendirikan suatu kerajaan baru di daerah Den Bukit.
Kira-kira pada pertengahan abad ke-17 ibu kota kerajaan itu disebut orang dengan nama Sukasada.
 
Semakin hari kerajaan itu semakin luas dan berkembang lalu didirikanlah kerajaan baru. Letaknya agak ke utara dari kota Sukasada.
Sebelum dijadikan kota, daerah itu banyak sekali ditumbuhi pohon buleleng. Oleh karena itu, pusat kerajaan baru itu disebut Buleleng. Buleleng adalah nama pohon sangat digemari oleh burung perkutut. Dipusat kerajaan baru itu didirikan istana megah, yang diberi nama Singaraja. 
 
Sumber : Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Dongeng Dewi Sri

         DONGENG DATANGNYA DEWI SRI

    Saman dahulu kala, manusia di muka bumi belum banyak, mereka hidup berkelompok dan saling berpindah pindahan di hutan belantara. Tempat tinggal mereka dibuat dari dedaunan kayu. Bahan pangan mereka adalah tumbuh-tumbuhan, umbi-umbian, daging dan ikan. Saat itu mereka belum mengenal bercocok tanam, untuk memotong kayu atau menggali lubang, mereka menggunakan batu yang keras, dan untuk menghasilkan api mereka menggosokkan sesama ranting yang kering. Karena sudah banyak tahu kalau ikan itu enak dimasak, mereka memasaknya dengan cara memanggang, selain itu daging dan ikan dibungkus dengan daun pisang, kemudian dimasukkan ke dalam tanah, di atas tanah dinyalakan api, dan akhirnya makanan di dalam tanah itu akan menjadi masak. 

      Menurut hikayat di suatu daerah pulau Jawa di pegunungan, ada seorang yang bergelar Hyang Prabu Romo, siang hari mereka berkeliaran ke hutan belantara untuk mencari makan dan pada malam hari mereka kembali ke perkampungan mereka masing-masing.

    Sekali terjadi kebakaran, seluruh penduduk berusaha memadamkan api, tetapi api malah menjalar ke hutan belantara, Hyang Prabu Romo yang berada di tengah-tengah masyarakat berkata “jangan berhenti sebelum api dipadamkan”. Kalau hutan belantara musnah hewan akan mati, tumbuh-tumbuhan tidak ada lagi. Di dalam keadaan cemas nyaris, di atas asap dan lidah api ada puluhan wanita cantik melayang-layang di angkasa. Tempat yang dilewati mereka itu menurunkan hujang, lama kelamaan, hujan semakin lebar dan deras, seluruh api di hutan itu padam. Wanita-wanita itu lalu menuju ke puncak gunung. Hyang Prabu Romo berdiri di sebuah batu besar bekas termakan api dan dia berkata “Api telah padam hutan tidak musnah, mungkin yang menolong kita itu putri dari surga atau dewi dari kahyangan, kita harus percaya kepada sang maha pencipta, tetapi kemana putri-putri cantik itu?”, kita juga harus berterima kasih juga pada mereka barang kali mereka diutus oleh sang maha pencipta untuk menolong kita, lalu ada seorang wanita menghadap Hyang Prabu Romo dan memberi hormat, lalu dia berkata “jangan salah sangka dan salah duga, saya ini hanya manusia biasa seperti wanita di daerah ini yang diberi kesaktian oleh sang maha pencipta untuk menolong kalian semua, kemudian Hyang Prabu Romo bertanya “Siapa nama anda wahai gerangan ?” lalu wanita itu menjawab “orang memberi nama saya berbeda-beda, di daerah ini penduduk memberi nama saya Dewi. Hyang Prabu Romo pun kembali bertanya “Siapa nama anda wahai Dewi?” penduduk menamakanku Dewi Sri. Kebetulan saya berada di daerah ini, kami dipindahkan dari satu benoa ke benoa lain, terima kasih karena kamu telah menolong kami. Seharusnya saya yang harus berterima kasih kadap kalian karena telah berjuang sekuat tenaga dan bekerja keras untuk memadamkan api, lagi pula banyak hewan dan tumbuhan berterima kasih kepada kalian, sebagai ucapan terima kasih kita adakan makan bersama. Lalu penduduk kembali bertanya bagaimana kita bisa melakukannya. Untuk satu orang saja tidak cukup, apalagi untuk makan  bersama, lalu wanita itu menjawab “jika saya perintahkan untuk memejamkan mata, pejamkanlah, kemudian jika saya perintahkan untuk membuka mata maka bukalah mata kalian semua”. Wanita itu memerintahkan pejamkan mata, beberapa menit kemudian dia kemudian memerintahkan untuk membuka mata. Dihadapan penduduk tersaji nasi, mereka lalu makan dengan lahap, setelah selesai makan mereka heran karena mereka tidak pernah makan sekenyang ini. Wanita itu kembali berkata “itu yang dinamakan nasi berasal dari padi yang diolah menjadi nasi kemudian dimasak, karena sebagian hutan itu sudah terlanjur terbakar kita manfaatkan saja untuk menanam padi, kalian bersihkan dulu hutan itu, nanti saya beri bibit padi secukupnya untuk kalian. Malam hari Hyang Prabu Romo memerintahkan seluruh penduduk untuk bangun, penduduk lalu pergi ke hutan yang habis dibersihkan di tanah itu tersedia bibit padi. Penduduk bergotong royong untuk menanam bibit padi tersebut dan mengira bahwa bibit padi tersebut pemberian dari Dewi Sri.

       Hanya ini yang dapat saya sampaikan, kalau ada kata-kata yang salah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kepada Allah saya mohon ampun.

       Akhir kata Wabillahi Taufik Wal Hidayah Wassalaamu alaikum wr.wb. selamat pagi dan salam sejahtera.

KESIMPULAN
Cerita ini adalah dongeng. Namun, sampai sekarang di banyak negeri, berbagai bangsa  menganggap bahwa padi adalah hadiah dari Dewi Sri kepada manusia, dan Dewi Sri senantiasa menjaga kelestariannya. Bila awal panen padi, banyak yang melakukan upacara tanda berterima kasih kepada Dewi pemberi dan penjaga padi itu.
Di Pulau Jawa orang menyebutnya Dewi Sri. Di Sumatera ada yang menamakannya Putri Dewi Sri, Putri Mayang Padi Mengurai atau Putri Sirumpun Emas Lestari.

Selasa, 01 Mei 2012

Makalah Bola Voly

BAB I
PENDAHULUAN

I.    SEJARAH
Permainan bola voli diciptakan oleh William G. Morgan pada 1895. Dia adalah seorang pemain pendidikan jasmani pada organisasi “Young Man Christian Association” (YMCA) di kota Massachuss Amerika Serikat. Mula-mula permainan bola voli diberi nama “MINTONETTE” karena permainannya hanya serupa dengan permainan badminton. Jumlah pemain tidak terbatas,sesuai dengan tujuan semula hanya untuk mengembangkan kesegaran jasmani para buruh disamping bersenam umum.
Kemudian permainan ini diubah menjadi “Volley Ball” yang artinya lebih kurang memvoli bola berganti-ganti. Pada tahun 1892 YMCA berhasil mengadakan kejuaraan nasional bola voli di negara AS. Pertandingan bola voli yang pertama pada 1947 di Polandia. Pada 1948 IVBF (International Volley Ball Federation) didirikan dengan beranggotakan 15 negara dan berpusat di Paris.
Dalam perang dunia II permainan ini tersebar di seluruh dunia terutama di Eropa dan Asia. Setelah perang dunia II prestasi dan popularitas permainan bola voli di AS menurun, sedangkan di negara lain, terutama Eropa Timur dan Asia, berkembang sangat pesat dan massal, Indonesia mengenal permainan bola voli sejak 1928, yaitu pada zaman penjajahan Belanda.
Permainan bola voli di Indonesia berkembang sangat pesat di seluruh lapisan masyarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan dasar itulah maka pada 22 Januari 1945 PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia) didirikan di Jakarta bersama dengan kejuaraan nasional yang pertama. Pertandingan bola voli masuk acara resmi setelah 1962 perkembangan bola voli seperti jamur tumbuh di musim hujan.

BAB II
PEMBAHASAN

Peraturan permainan bola voli
a.    Bola pada net
       1)    Bola melewati net
                 a)    Bola yang dipantulkan ke daerah lawan harus melewati atas net di dalam ruang lintasan bola. Lintasan bola itu adalah bagian dari latar vertical net yang dibatasi tepian atas net sebagai berikut :
(1)    Disebelah bawah net dengan ketinggian dari batas net
(2)    Disampingnya dengan antena/rod dan perpanjangan garis imajinasi (bayangan)
(3)    Disebelah atas dengan langit-langit
b)    Bola mengarah ke pihak lawan melalui sisi luar lintasan bola dapat dimainkan lagi asalkan pada saat bola itu disentuh belum seluruhnya melewati latar vertikal net.
c)    Bola dinyatakan “keluar” apabila bola itu seluruhnya melewati ruang vertikal dibawah net.
2)    Bola menyentuh net
Sewaktu bola melewati atas net, bola itu boleh menyentuh termasuk bola servis.
3)    Bola di net (selain bola servis)
a)    Bola yang dipantulkan ke net boleh dimainkan kembali dengan batas tiga kali bagi regu yang bersangkutan
b)    Jika bola yang dipukul pada net merobek mata jala atau net menjadi rusak, permainan dihentikan dan permainan diulangi.

b.    Pemain sekitar net
1)    Daerah permainan dan tempat
Setiap regu harus bermain di daerah dan ruang permainannya sendiri. Sejauh mungkin bola dapat dimainkan dari daerah bebas.
2)    Jangkauan melewati net
a.    Dalam melakukan bendungan, seseorang boleh menyentuh bola di daerah lawan, asalkan dia tidak mengganggu permainan lawan, sebelum atau pada saat sentuhan serangan terakhir.
b.    Seorang pemain diperkenankan melewatkan tangannya didaerah lawan sesudah melakukan serangan, asalkan sentuhan itu telah dilakukannya dalam daerahnya sendiri
3)    Memasuki (melewati) di bawah net
a.    Diperkenankan untuk melewati ruang permainan lawan dibawah net, asalkan tidak mengganggu permainan lawan
b.    Masuk ke dalam lapangan lawan
1)    Menyentuh garis tengah dengan kaki adalah salah ketika mengambil bola
2)    Bagian-bagian dari badan dilarang menyentuh lapangan lawan dalam usaha mengambil bola
c.    Seorang pemain boleh memasuki lapangan lawan setelah bola berada di luar permainan. Seorang pemain boleh memasuki daerah bebas lapangan lawan, asalkan tidak mengganggu permainan lawan

c.    Servis
1)    Definisi
Servis adalah suatu tindakan untuk memasukkan bola ke dalam permainan pemain belakang kanan, yang memukul bola itu dengan satu tangan atau lengan dari daerah servis.
2)    Servis pertama dalam satu net
a.    Servis pertama pada set 1 dan 5 dilakukan oleh regu yang memperoleh hak untuk servis dari hasil undian
b.    Set berikutnya dimulai dengan servis oleh regu yang tidak melakukan servis pertama pada set sebelumnya.
3)    Urutan sevis
a.    Para pemain harus mengikuti urutan servis
b.    Setelah servis pertama dalam suatu set, pemain yang melakukan servis ditentukan sebagai  berikut :
(1)    Jika regu yang servis memenangkan reli, maka pemain yang sama melakukan servis kembali
(2)    Jika regu penerima servis memenangkan reli, maka regu itu memperoleh giliran servis dan berputar. Pemain dari posisi depan kanan bergeser ke posisi belakang kanan untuk melakukan servis.

4)    Kewenangan untuk melakukan servis
Wasit pertama memberi hak untuk servis setelah ia mengecek bahwa pemain yang servis telah memegang bola di daerah servis dan kedua regu telah siap untuk bermain
5)    Pelaksanan servis
a.    Pada saat melakukan servis atau melakukan servis sambil meloncat, pemain servis tersebut tidak boleh menginjak lapangan (termasuk garis akhir) maupun lantai di luar daerah servis. Setelah memukul bola, dia boleh melangkah atau mendarat di luar daerah servis ke dalam lapangan.
b.    Pemain yang servis harus memukul bola dalam waktu 5 detik setelah wasit pertama menyembunyikan peluitnya.
c.    Servis yang dilakukan sebelum wasit membunyikan peluit harus dibatalkan atau diulangi
d.    Bola harus dipukul dengan satu tangan atau satu bagian dari lengan setelah dilambungkan atau dilepaskan secara jelas dan sebelum bola itu menyentuh lantai.
6)    Persiapan melakukan servis
a.    Jika bola yang dilambungkan atau dilepaskan oleh pemain yang servis jatuh ke lantai tanpa disentuhnya, maka hal itu ditetapkan sebagai usaha servis
b.    Setelah suatu usaha servis terjadi, wasit harus segera memerintahkan pemain yang bersangkutan untuk melakukan servis kembali tanpa menunda waktu dan servis harus dilakukan dalam waktu 3 detik
c.    Hanya sekali persiapan servis yang diperkenankan.



Gambar Lapangan Bola Voly


BAB III
PENUTUP

1.    KESIMPULAN
Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal.
Servis adalah suatu tindakan untuk memasukkan bola ke dalam permainan oleh pemain belakang kanan, yang memukul bola itu dengan satu tangan atau lengan dari daerah servis.
Wasit pertama memberi hak untuk servis setelah dia mengecek bahwa pemain yang servis telah memegang bola di daerah servis dan kedua regu telah siap bermain.

2.    SARAN
Para pemain bola voli harus mengetahui peraturan permainan bola voli agar tidak sembarangan atau semaunya saja dalam bermain. Seorang pemain yang baik adalah pemain yang selalu taat dengan peraturan yang telah ditetapkan dan tidak melanggar peraturan permainan bola voli.
Dengan taatnya terhadap peraturan permainan maka tercapailah hasil yang optimal.


DAFTAR PUSTAKA

Muklis, S.Pd & Raharjo, S.Pd. 2009. Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Klaten Utara : Grafika Dua Tujuh

Drs. Muhajar. M.Ed. 2006. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesenian. Jakarta : Erlangga

Muhajar. 2006. Pendidikan Jasmani Olahraga & Kesehatan Untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Erlangga

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan YME atas berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Penjaskes tentang “Permainan Bola Voli” dengan baik dan benar. Rasa terima kasih juga kami sampaikan kepada guru pembimbing yang telah membantu kami menyusun makalah ini.
Setalah kami memperlajari tentang permainan bola voli, dan membuatnya jadi sebuah makalah. Ternyata permainan ini sangat asyik untuk dimainkan. Selain itu kami juga bisa memahami peraturan permainan yang benar, sehingga kami bisa bermain bola voli dengan baik dan tidak asal main saja.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah kami selanjutnya.  Atas kritik dan saran yang diberikan kami ucapkan terima kasih.


Makarti Jaya,    Juni 2011


Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL        i
KATA PENGANTAR        ii
DAFTAR ISI        iii
BAB I PENDAHULUAN        1       
1.1    Sejarah        1
BAB II PERMASALAHAN        2       
2.1.    Lapangan (PETA)        5
BAB III PENUTUP        6
3.1.    Kesimpulan        6
3.2.    Saran        6
Daftar pustaka        7